Minggu, 01 Maret 2026

Keterlambatan yang Menguntungkan

KETERLAMBATAN paling menakjubkan di dunia 
Adalah KETERLAMBATAN yang dialami oleh Halimah As-Sa’diyah. 

Mengapa Halimah bisa sangat beruntung sampai bisa menyusui Rasulullah?

Berikut ulasan menarik dari M Miftahul Ilmi, Lc. Mahasiswa S2 Al Azhar Mesir jurusan Teknik Al Qur'an.

Halimah adalah salah satu perempuan yang namanya abadi hingga hari ini, dikarenakan beliau adalah sosok yang menyusui Rasulullah sewaktu bayi. 

Namun tidak banyak yang mengambil pelajaran dari sosok tersebut, alasan utama yang membuat Halimah menjadi perempuan yang bisa menyusui Rasulullah adalah karena keterlambatan.

Beliau terlambat sampai ke wilayah Mekkah dikarenakan keledainya yang kurus dan lemah, sementara perempuan lainnya sudah lebih dulu sampai dan memilih setiap bayi yang tidak yatim. Dikarenakan setiap perempuan kala itu mengharapkan upah yang cukup dan pasti dari setiap ayah anak-anak tersebut.

Maka tidak ada satupun dari mereka yang memilih untuk menyusui Muhammad, hingga akhirnya halimah lah satu-satunya yang tersisa dari banyaknya perempuan tersebut, dikarenakan ia datang terlambat.

Dikarenakan tidak ada pilihan lain, dan ia tidak ingin pulang tanpa membawa apapun, maka ia pun mengambil bayi tersebut dan bersedia menyusuinya. 

Maka kali pertama ia memangku bayi tersebut, seketika air susunya mengalir dengan lancar, keledai yang ditungganginya berjalan dengan sangat kuat dan kencang, bahkan sampai mampu menyalip tunggangan milik yang lain. 

Dari mana semua itu bermula? 
Dari keterlambatan..

Terkadang Allah menunda sesuatu untuk kita dalam rangka memberikan kebaikan yang lebih berlimpah setelahnya. 

Darahnya bercampur dengan darahnya Rasulullah disebabkan keterlambatan, keberkahan mengalir setiap saat di sekelilingnya dikarenakan keterlambatan. 

Bagaimana jika kita ubah doa dan sudut pandang kita menjadi : 

“Ya Rabb, saya ridho dengan semua penundaan dan keterlambatan yang semisal dengan keterlambatan Halimah Sa’diyah” 

انتهى الأمر

Sabtu, 28 Februari 2026

Hari Kesepuluh

Puasa Hari Kesepuluh Ramadhan.

Kali ini kami akan repost tulisan dari saluran WA Fitrah Sehat. 
---

Sepuluh hari sudah terlewati.
Ini bukan lagi adaptasi — ini sudah pembentukan.

Hari kesepuluh adalah garis pemisah:
apakah Ramadhan hanya lewat di tubuh…
atau sudah mulai masuk ke hati?

---

10 Hari Pertama: Fase Rahmat

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa 10 hari pertama adalah fase rahmat.

Rahmat itu bukan hanya rezeki.
Rahmat itu ketenangan.
Rahmat itu hati yang lebih lembut.
Rahmat itu emosi yang lebih terkendali.

Coba lihat diri sendiri:

Apakah lebih mudah sabar?

Lebih mudah menahan reaksi?

Lebih ringan memaafkan?

Kalau iya, itu rahmat sedang bekerja.

---

Evaluasi Sepersepuluh Perjalanan

Sepuluh hari berarti 1/3 Ramadhan hampir lewat.

Jujur saja:

Shalat meningkat atau biasa saja?

Qur’an bertambah atau stagnan?

Lisan lebih terjaga atau masih sama?

Jangan takut evaluasi.
Ramadhan itu sekolah. Evaluasi itu bagian dari belajar.

---

Jaga Momentum

Biasanya di hari kesepuluh muncul rasa:

“Masih lama.”
atau

“Sudah mulai capek.”

Keduanya bisa melemahkan fokus.

Solusinya sederhana: Turunkan ekspektasi yang berlebihan.
Naikkan kesadaran yang sederhana.

Fokus hari ini saja.
Jangan pikir 20 hari ke depan.

---

Pesan Hari Kesepuluh

Kalau 10 hari ini belum maksimal, jangan menyesal.
Masih ada waktu memperbaiki arah.

Ramadhan bukan tentang siapa paling banyak.
Tapi siapa paling tulus.

Hari kesepuluh ini adalah titik cek arah.

Pastikan langkahmu masih menuju Allah,
bukan hanya menuju maghrib.

Teruskan.
Pelan, dalam, dan sadar.

#BackToFitrah

Surprise

Surprise 
Kerja dakwah islamiah mengajak ummat untuk belajar Islam, minimal belajar membaca Al-Qur'an, tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan perjalanan panjang untuk dapat diterima. 

Setelah dua belas tahun berkiprah di Hidayatullah Raha Kabupaten Muna akhirnya berbuah menggembirakan. Awalnya dari anak-anak mereka yang belajar mengaji membaca Al-Qur'an. Alhamdulillah alakullihal dukungan warga soal itu sangat baik. Mereka tidak antipati. 



Ramadan kali ini kesempatan mengajak mereka berpartisipasi dalam even buka puasa bersama. Berawal kegiatan #siramanmanis #BaitulMaalHidayatullah di Raha tanggal 28 Februari - 1 Maret 2026 acara buka puasa bersama diagendakan. Memanfaatkan celah jadwal yang ada. 

Dari bisik-bisik dengan istri yang mengampu Majelis Taklim Muslimah Hidayatullah Raha untuk ditawarkan pada ibu-ibu jamaah pengajiannya. Maa Syaa Allah walhamdulillah, sambutan yang di luar dugaan membuat haru. Mereka bergembira dan bahagia dapat kesempatan itu. 

Akhirnya para ibu-ibu jamaah MT Mushida Raha dengan suka rela gotong royong pagi ini menyiapkan konsumsi untuk acara bukber sebentar. Insyaallah biidznillah. 

Semoga mujahadah ibu-ibu MT Mushida Raha dan yang terlibat dalam kelancaran acara sebentar diberikan balasan kebaikan berlimpah berlapis keberkahan dari Allah. 

#mushida #muslimathidayatullah #hidayatullahraha

Kamis, 26 Februari 2026

Qarunisme

Mengapa kita hanya fokus tentang ayat-ayat iman ( يا أيها الذين امنوا ) ? 

Padahal semua ayat dalam Al-Qur’an adalah pelajaran yang ditujukan kepada kita. 

Memangnya Kenapa Al-Qur’an sampai menyebutkan Qorun, Fir’aun, Haman, Abu Lahab, dll? 

Berapa kali kita terjebak dalam karakter Qorun?

Tadabur Al-Qur'an ala M Miftahul Ilmi, Lc ini, mahasiswa S2 Al Azhar Mesir, sangat menarik jadi refleksi diri. 

Semua kisah dalam Al-Qur’an tidaklah sama seperti kisah yang disebutkan dalam beragam kitab sejarah, Al-Qur’an tidak menjelaskan nama tokoh, tahun kelahiran dan kematian, tempat kejadian dll. 

Karena semua itu hanyalah sekedar informasi sejarah, sementara fokus dari Al-Qur’an adalah memberikan petunjuk kepada setiap pembacanya serta meningkatkan kesadaran setiap pembacanya, sehingga seringkali Al-Qur’an hanya mencukupkan dengan point pembahasannya saja.

Mengapa Qorun sampai disebutkan dalam Al-Qur’an ? 

Karena karakter yang dimiliki Qorun adalah karakter yang tidak hanya dimiliki Qorun semata, melainkan akan senantiasa terulang dan terjadi dalam setiap generasi manusia hingga hari kiamat. 

Diantara karakter utama yang dimention oleh Al-Qur’an terdapat dalam Al-Qashas : 78

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
Aku mendapat ini karena ilmuku

Diantara banyaknya perkataan Qorun selama ia hidup, Al-Qur’an hanya mencukupkan quotes pendek tersebut yang berasal dari Qorun selama ia hidup, mengapa? 

Karena quotes tersebutlah yang seringkali menimpa setiap manusia hari ini dan seterusnya. 

Berapa banyak diantara kita yang pernah terjebak dalam karakter Qorun? 

Kita merasa keberhasilan kita adalah karena ilmu kita, kita merasa mendapatkan uang dengan mudah karena ilmu kita.

Kita mendapatkan uang dari hasil mengajarkan ilmu kita kepada orang lain, kemudian kita mendapatkan uang bayaran, lalu kita mengira bahwa hal tersebut adalah keuntungan untuk kita dikarenakan ilmu kita. Hingga akhirnya kita pun lupa dengan pemberi dan sumber ilmu dan Rezeki yang sesungguhnya. 

Dengan demikian kita terjebak, kita lebih mengagungkan ilmu daripada sumber segala ilmu yaitu Allah. 

Pemikiran atau karakter seperti ini akan selalu ada dalam setiap diri manusia hingga hari kiamat

Itulah mengapa Al-Qur’an hanya mencukupkan quotes pendek dari Qorun selama hidupnya, karena point pelajarannya terdapat dalam Kutipan pendek tersebut yang menyebabkan Qorun jatuh dalam kesombongan dan kehinaan. 

Barangkali karakter tersebut ada atau pernah ada dalam diri kita, maka jika ada dalam diri kita, kita tidak ada bedanya dengan Qorun. 

Yang mati hanyalah jasad Qorun, sedangkan karakternya senantiasa hidup hingga hari kiamat. 

و الله أعلى وأعلم

Bermuka Masam

Mengapa dalam surat ‘abasa disebutkan “tunanetra” atau “seorang yang buta”? 

Mengapa ayatnya tidak datang dengan menyebutkan namanya (Abdullah bin Ummi Maktum) ?

“Karena seorang tunanetra telah datang kepada-Nya” — ‘Abasa : 2
Berikut ulasan yang ditulis M Miftahul Ilmi, LC seorang mahasiswa S2 Al Azhar Mesir jurusan tafsir dalam channel WA Halaqah Tafsir 

Seandainya Al-Qur’an menyebutkan dengan nama sahabat tersebut (Abdullah bin Ummi Maktum) maka selesai sudah, tidak ada pengajaran dari ayat tersebut. 

Akan tetapi Al-Qur’an tidaklah seperti itu, sejak awal Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang meningkatkan kesadaran pembacanya, bukan hanya sekedar memberikan informasi lalu selesai begitu saja. 

Jika kita memperlakukan Al-Qur’an sebatas pemberi informasi, maka kita sedang menyamakan Al-Qur’an dengan semua buku yang ada di dunia ini.

Dengan disebutkannya “orang yang buta” justru menunjukkan pelajaran yang penting dalam kehidupan sehari-hari. 

Yang mana Rasulullah sampai ditegur oleh Allah dikarenakan mengabaikan Abdullah bin Umi Maktum yang buta tersebut, Rasulullah lebih memilih meladeni atau memberi perhatian kepada  para pembesar quraisy

Sementara pembesar quraisy tersebut adalah orang-orang yang berkecukupan yang senantiasa menganggap diri mereka sudah tidak butuh lagi dengan pengajaran agama, dakwah dll.

Dari ayat tersebut kita dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana bersikap dalam kehidupan sehari-hari. 

Jangan sampai perhatian kita teralihkan hanya karena rupa semata, jangan sampai memberikan prioritas pengajaran dll kepada orang yang kita anggap fisiknya lebih sempurna, atau orang yang lebih berpengaruh, dan di sisi lain kita mengabaikan orang yang terpinggirkan, padahal orang terpinggirkan tersebutlah yang paling membutuhkan pengajaran.

Jangan sampai kita lebih mengajarkan ilmu dan memprioritaskan seseorang karena rupa atau kasta semata, kita memberikan pengajaran dan perhatian karena ia orang kaya, berpengaruh, rupawan dan semacamnya. 

Kemudian kita mengabaikan orang yang kekurangan, buta, orang pinggiran dan sebagainya. 

Inilah salah satu pelajaran berharga ketika ayatnya tidak menyebutkan namanya secara langsung.

Akan berbeda jika ayatnya menyebutkan nama Abdullah bin Ummi Maktum, maka tidak ada pelajaran yang meluas yang dapat kita ambil. 

Karena surat tersebutlah setiap kali Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Rasulullah, Rasulullah mengatakan : selamat datang wahai orang yang membuat Allah menegurku ✨

Berapa kali kita membaca ayat tersebut tetapi tidak mengambil pelajaran apapun? 
Berapa kali kita membaca ayatnya, tetapi tidak membuat pola pikir kita berubah sedikitpun?

Selama kita memperlakukan Al-Qur’an bagaikan buku pada umumnya yang sebatas memberikan informasi, maka selama itulah kita tidak akan mendapatkan pelajaran apapun untuk kehidupan. 

Sejak awal sekali, Al-Qur’an adalah pedoman, membentuk pola pikir, pola hidup, gaya hidup yang berlaku sepanjang zaman dan tempat.

Jika ada seorang pendidik yang lebih memprioritaskan anak-anak yang normal daripada anak-anak yang tunanetra dan sebagainya, maka sebenarnya ayat tersebut pun sedang menegur pendidik tersebut.

Al-Qur’an bukan kitab sejarah yang hanya fokus dengan tanggal, hari, kejadian, sosok, tempat dan sebagainya, tidak seperti itu. 

Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang sangat amat terang dan jelas. 

و الله أعلى وأعلم

Senin, 23 Februari 2026

Infak Ifthar

✨RAMADHAN PENUH BERKAH.

Ramadhan adalah bulan berbagi, bulan dimana setiap kebaikan dilipatgandakan.

Yuk saatnya berbagi kebaikan!

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”
(HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Ahmad)

Mari ambil bagian dalam program Infaq Ifthar Ramadhan bersama Pondok Pesantren Hidayatullah Raha.

📌 Program:
Pembagian 50 porsi ifthar setiap hari selama bulan Ramadhan.

Disalurkan untuk santri binaan, penghafal Al-Qur’an, dan masyarakat yang membutuhkan
💰 Donasi: Rp10.000 / paket

📩 Salurkan infaq melalui:
BRI 5040.01.000667.53.8
a.n Pondok Pesantren Hidayatullah
📲Konfirmasi: 082315158570
(ustadz Irfan)

Semoga setiap suapan yang kita berikan menjadi pahala yang terus mengalir dan membawa keberkahan untuk kita semua.
aamiin 🤲🏻

#Sedekah #Infaq #Ramadhan #Ifthar #BerbagiBerkah

Cara Cepat Menuju Allah


Apa cara terbaik dan tercepat untuk sampai kepada Allah (Dicintai dan diridhoi Allah) ? 

Mengapa lautan bisa sampai terbelah memberikan jalan kepada Nabi Musa dan Pengikutnya? 

Cara paling cepat adalah dengan menyusuri jalan ini (Al-Fatihah : 6)

Berikut adalah goresan pena dari M Miftahul Ilmi seorang mahasiswa S2 Universitas Al Azhar Mesir jurusan Tafsir Al-Quran dalam channel WhatsApp 'Halaqah Tafsir'. Sebuah tadabbur surat alfatihah ayat 6.

Sebelumnya ada yang bertanya perihal dari mana sebaiknya kita memulai menuju Allah? 
Apa hal pertama yang sebaiknya kita lakukan supaya ibadah menjadi lebih khusyuk lagi? 

Kebaikan mana yang paling cepat dan paling dekat mendapatkan cinta Allah?

Karena kita semua pun tahu betul, ada banyak sekali kebaikan dalam ajaran agama ini bukan? Saking banyaknya kadang membuat sebagian orang bingung, kebaikan mana yang harus diprioritaskan lebih dulu untuk memulai dekat dengan Allah?

Oleh karenanya kita akan memulai dari surat pertama dalam Al-Qur’an, Al-Fatihah : 6 

Penjelasan terkait ayat tersebut telah terjelaskan berkali-kali dari berbagai sudut pandang yang beragam, sebagaimana telah terjelaskan dalam utas beberapa bulan ke belakang. 

Diksi الصراط المستقيم hanya disebutkan 2x Dalam Al-Qur’an, dalam Al-Fatihah : 6 & As-Shaffat : 118. 

Dan sebagaimana kita ketahui arti dari kalimat tersebut adalah “jalan yang lurus”

Tentu jalan yang lurus tersebut adalah 
“agama Islam” yang mana semua nabi dan rasul dan semua orang shalih terdahulu pun berjalan di jalan tersebut, karena agama Islam adalah satu-satunya agama yang dapat menyampaikan kita kepada Allah. 

Satu-satunya ajaran yang mengantarkan kita kepada ridho Allah, dan mendapatkan cinta Allah. 

Berhubung kita sudah berada dalam ajaran agama islam, maka apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

Sederhana saja, makanan favorit orang lain diketahui oleh orang lain atau oleh kita? 

Tentu oleh orang lain bukan? Kita tidak akan mengetahui makanan orang lain begitu saja tanpa menanyakan langsung kepadanya atau orang tersebut memberitahu lebih dulu kepada kita. 

Kita tidak bisa mengetahui makanan kesenangan guru kita kecuali kita menanyakannya lebih dulu atau guru kita memberitahunya lebih dulu. Dan kita semua sepakat terkait ini.

Begitupun hubungan kita dengan Allah, hal pertama yang harus kita ketahui supaya dicintai oleh Allah adalah kita mengetahui lebih dulu kebaikan mana yang Allah cintai terhadap hambanya? 

Maka pengetahuan tersebut hanya bisa diketahui melalui ilmu bukan? Yang mana ilmu tersebut adalah informasi yang valid bersumber dari Allah dan Rasulnya. 

Dan “jalan yang lurus” adalah jalan terdekat dan tercepat dalam menggapai ridho dan cinta Allah.

Jalan tersebut adalah jalan yang telah Allah tentukan setiap detailnya, artinya apa saja yang Allah perintahkan maka perintah tersebut adalah jalan lurus. 

Sehingga cara tercepat menuju cinta Allah adalah melakukan atau mentaati apa saja yang sesuai dengan مُرَادِ الله (Keinginan Allah) 

Sesimpel itu sebenarnya, mengapa ketika Nabi Musa memukulkan tongkatnya, seketika itu lautan terbelah membukakan jalan untuk Nabi Musa dan pengikutnya?

Alasannya sederhana, karena Nabi Musa melakukan apa yang Allah perintahkan, sesuai dengan perintah Allah. 

Karena dipukulkannya tongkat tersebut berdasarkan perintah Allah, sehingga dari ketaatan tersebutlah Allah memberikan petunjuk kepadanya. Artinya Allah meridhoi, mencintai, dan memberikan bukti dengan memberikan jalan kepadanya. 

Maka begitupun dengan kita saat ini, yang perlu kita lakukan pertama kali adalah memulai ketaatan yang paling Allah cintai.

Dan diantara kebaikan yang sangat Allah cintai dari hambanya adalah : Kebaikan yang Allah wajibkan itu sendiri kepada hambanya. 

Sebagaimana disebutkan dalam hadist Shahih Bukhari, dalam kitab Ar-Riqaq, dalam bab tawadhu’ hadits 6581. 

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku
cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.

Dari hadist tersebut sangat jelas bahwa cara paling utama dan paling dicintai oleh Allah adalah amalan wajib itu sendiri. 

Karena tidak ada amalan sunah apapun yang mampu menggantikan atau menyamai pahal dari apa yang telah Allah wajibkan. 

Jadi langkah pertama menuju cinta Allah adalah dengan melakukan apa yang telah Allah wajibkan lebih dulu. 

Amalan wajib apa yang paling sering Allah serukan kepada hambanya? Shalat.

Maka setiap kita hanya perlu memulai dari shalat wajib dan mendalami semua informasi yang bersangkutan dengan shalat wajib tersebut. 

Tentu kualitas shalat kita bergantung pada keilmuan atau pengetahuan kita tentang shalat itu sendiri. 

و الله أعلى و أعلم

Keterlambatan yang Menguntungkan

KETERLAMBATAN paling menakjubkan di dunia  Adalah KETERLAMBATAN yang dialami oleh Halimah As-Sa’diyah.  Mengapa Halimah bisa sangat beruntun...