Mengapa ayatnya tidak datang dengan menyebutkan namanya (Abdullah bin Ummi Maktum) ?
“Karena seorang tunanetra telah datang kepada-Nya” — ‘Abasa : 2
Berikut ulasan yang ditulis M Miftahul Ilmi, LC seorang mahasiswa S2 Al Azhar Mesir jurusan tafsir dalam channel WA Halaqah Tafsir
Seandainya Al-Qur’an menyebutkan dengan nama sahabat tersebut (Abdullah bin Ummi Maktum) maka selesai sudah, tidak ada pengajaran dari ayat tersebut.
Akan tetapi Al-Qur’an tidaklah seperti itu, sejak awal Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang meningkatkan kesadaran pembacanya, bukan hanya sekedar memberikan informasi lalu selesai begitu saja.
Jika kita memperlakukan Al-Qur’an sebatas pemberi informasi, maka kita sedang menyamakan Al-Qur’an dengan semua buku yang ada di dunia ini.
Dengan disebutkannya “orang yang buta” justru menunjukkan pelajaran yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Yang mana Rasulullah sampai ditegur oleh Allah dikarenakan mengabaikan Abdullah bin Umi Maktum yang buta tersebut, Rasulullah lebih memilih meladeni atau memberi perhatian kepada para pembesar quraisy
Sementara pembesar quraisy tersebut adalah orang-orang yang berkecukupan yang senantiasa menganggap diri mereka sudah tidak butuh lagi dengan pengajaran agama, dakwah dll.
Dari ayat tersebut kita dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana bersikap dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan sampai perhatian kita teralihkan hanya karena rupa semata, jangan sampai memberikan prioritas pengajaran dll kepada orang yang kita anggap fisiknya lebih sempurna, atau orang yang lebih berpengaruh, dan di sisi lain kita mengabaikan orang yang terpinggirkan, padahal orang terpinggirkan tersebutlah yang paling membutuhkan pengajaran.
Jangan sampai kita lebih mengajarkan ilmu dan memprioritaskan seseorang karena rupa atau kasta semata, kita memberikan pengajaran dan perhatian karena ia orang kaya, berpengaruh, rupawan dan semacamnya.
Kemudian kita mengabaikan orang yang kekurangan, buta, orang pinggiran dan sebagainya.
Inilah salah satu pelajaran berharga ketika ayatnya tidak menyebutkan namanya secara langsung.
Akan berbeda jika ayatnya menyebutkan nama Abdullah bin Ummi Maktum, maka tidak ada pelajaran yang meluas yang dapat kita ambil.
Karena surat tersebutlah setiap kali Abdullah bin Ummi Maktum mendatangi Rasulullah, Rasulullah mengatakan : selamat datang wahai orang yang membuat Allah menegurku ✨
Berapa kali kita membaca ayat tersebut tetapi tidak mengambil pelajaran apapun?
Berapa kali kita membaca ayatnya, tetapi tidak membuat pola pikir kita berubah sedikitpun?
Selama kita memperlakukan Al-Qur’an bagaikan buku pada umumnya yang sebatas memberikan informasi, maka selama itulah kita tidak akan mendapatkan pelajaran apapun untuk kehidupan.
Sejak awal sekali, Al-Qur’an adalah pedoman, membentuk pola pikir, pola hidup, gaya hidup yang berlaku sepanjang zaman dan tempat.
Jika ada seorang pendidik yang lebih memprioritaskan anak-anak yang normal daripada anak-anak yang tunanetra dan sebagainya, maka sebenarnya ayat tersebut pun sedang menegur pendidik tersebut.
Al-Qur’an bukan kitab sejarah yang hanya fokus dengan tanggal, hari, kejadian, sosok, tempat dan sebagainya, tidak seperti itu.
Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang sangat amat terang dan jelas.
و الله أعلى وأعلم
Tidak ada komentar:
Posting Komentar